Terapkan Protokol Kesehatan, Pasar Santic Gondangmanis Digelar

Pasar Santic: Program Kampung Iklim yang berada di wilayah Desa Gondangmanis RW 07 gelar Pasar Santic dengan Protokol Kesehatan. (Foto: Siti Rahayu/centininews)

 

Centininews, Kudus – Kampung Iklim di Perumahan Muria Indah, Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kudus, tiada habisnya memberikan inovasi untuk menciptakan lingkungan yang asri sekaligus mendongkrak perekonomian warga. Salah satu daya tarik yang kuat dari inovasi di wilayah ini adalah keberadaan Pasar Santic (Sunday Morning Reduce Plastic) yang telah diluncurkan pada September 2019 silam.

Program Kampung Iklim yang berada di wilayah Desa Gondangmanis RW 07 ini menyuguhkan banyak sekali kreasi kerajinan yang berbahan dasar sampah plastik. Sedangkan, produk UMKM Desa Gondangmanis yang ada di Pasar Santic ini dikemas menggunakan kemasan ramah lingkungan. Seperti daun pisang, daun jati, besek, dan kantong kertas.

Baca Juga   Terapkan Pola Hidup Baru, Pemdes Burikan Terus Lakukan Penyemprotan Disinfektan

Mengingat bahwa pandemi corona (covid-19) masih mewabah di Kabupaten Kudus, penyelenggaraan Pasar Santic diadaptasikan dengan protokol kesehatan yang ketat. Dengan tetap menerapkan social distancing, para pengurus yang tergabung dalam Muria Indah Go Green (MI2G) khususnya FUMI (Forum UMKM Muria Indah) tidak lupa menyerukan bagi warga untuk menggunakan masker dan membiasakan cuci tangan pakai sabun.

“Protokol kesehatan tetap kita terapkan di Pasar Santic untuk mencegah penularan virus korona,” ujar Ahmad Munaji selaku Penggerak Program Kampung Iklim di Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kudus.

Munaji juga menargetkan, wilayah yang memiliki 17 RT dengan lebih dari 40 gang ini ke depan bisa mewujudkan kampung yang mempunyai ketahanan pangan baik. Di mana warga bisa memanfaatkan tumbuhan yang mereka tanam di pekarangan dan gang-gang kampung untuk kebutuhan pangan sehari-hari.

Baca Juga   Truk minimum isotonik terguling di Tawangmangu usai rem blong

Transaksi kegiatan Pasar Santic dan penjualan masa pandemi di kampung iklim, lanjutnya, kurang lebih terdapat alur transaksi Rp 250 – 300 juta.

“Mandiri di sini artinya kita bisa mandiri pangan. Yang mana, kita sudah punya sayur sendiri, lauk sendiri, jadi kita tinggal beli berasnya saja. Apalagi akan digulirkan Program Nabung Sampah Jadi Emas,” ujarnya.

Disampaikan pula oleh Ahmad Munaji, kreasi dari sampah plastik ini selalu dikembangkan melalui Program Rumah Kreasi Kampung Iklim. Warga diajarkan untuk mengubah sampah plastik menjadi berbagai bentuk kerajinan, mulai dari tas hingga gaun pengantin. (SR)

Tinggalkan Balasan