Percepat Layanan, RSUD Kudus Bantah Isu Covidkan Pasein Meninggal

CENTININEWS, KUDUS – Santer beredar isu pasien meninggal di rumah sakit Kabupaten Kudus sengaja dicovidkan dibantah RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus. Tidak hanya sekali, tapi beberapa masyarakat menyebut jika keluarga mereka yang meninggal di rumah sakit saat masa pandemi Covid-19 ini diharuskan mengikuti pemulasaran seperti pasien Covid-19 meskipun hasil swab belum dilakukan.

Redaksi Centininews pernah mewawancarai pihak keluarga pasien dari rumah sakit yang meninggal akibat komplikasi namun harus menjalani protokol pemusalaran jenazah Covid-19. Dia menyebut jika keluarga yang meninggal bahkan sebelumnya khawatir dan takut meninggal di rumah sakit akibat santer isu pengcovidkan saat meninggal di rumah sakit.

“Sampai keluarga saya takut dibawa ke rumah sakit, karena ada cerita jika meninggal di rumah sakit saat korona bakal mengikuti protokol pemakaman. Jika tidak ya jenazah tidak boleh keluar dari rumah sakit,” ujar narasumber yang tidak dapat kami sebutkan namanya.

Baca Juga   Sopir Truk Mendadak Jatuh Meninggal di Minimarket Gondoharum

Menanggapi isu ini Direktur RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus, dr Abdul Aziz Achyar membantah jika tidak ada pasien yang sengaja dicovidkan saat meninggal. Dia memastikan jika gejolak dimasyarakat terjadi sebab hasil swab yang belum keluar saat pasien meninggal dunia.

“Untuk deteksi dini covid, begitu pasien masuk kemudian tidak boleh lebih dari satu jam harus sudah selesai rontgen di laboratorium,” ujarnya saat peluncuran program Five Minutes Frontliner Leading Service RSUD dr Loekmono Hadi Kudus, Jum’at (23/10/2020).

Lebih lanjut dari hasil rontgen begitu sudah ada tanda-tanda misalnya glukopneumoni dengan sifat khas limfositnya menurun dan neutrofilnya meninggi, dengan rasio antara netrofill dengan limfosit diatas 5,8 sudah masuk suspek covid.

“Misal pasien masuk jam 9 malem jam 10 harus harus selesai rontgen.  Pukul 10.30 harus sudah dilakukan tes swab. Jadi jika pagi pasien masuk diharapkan 12 hasil (tes swab) sudah keluar,” ujar Aziz

Baca Juga   Jasad Wanita Berhelm Ditemukan di Pinggiran Jalan Sepi Gunungpati

Sementara kasus pasien meninggal sebelum tes swab keluar memang harus dilakukan sesuai protokol pemulasaran pasien covid. Jika masyarakat membutuhkan hasil yang pasti, maka bisa ditunggu. Dalam hitungan jam hasil sudah keluar.

Apalagi menurutnya dengan alat robotik, dia menyebut jika RSUD sudah dapat menguji hingga 400 sampel lendir tenggorokan setiap harinya.

“Ya kalau hasilnya negatif, monggo dibawa pulang dan dimandikan sesuai keinginan. Tapi beda lagi jika hasilnya keluar lama seperti dua hari, maka harus protokol pemulasaran,” tandanya.

Dia berharap dengan mempercepat layanan dapat mengantisipasi gejolak di masyarakat. Juga untuk menghapus citra tidak baik yang selama ini disematkan pada rumah sakit saat pandemi Covid-19. (*/ap)

Tinggalkan Balasan