Bau sampah menumpuk di Pasar Pamotan Rembang

CENTININEWS.CO.ID, REMBANG – Sampah menumpuk dan bau busuk mau tidak mau harus terhirup hidung warga dan pedagang di Pasar Pamotan, Kabupaten Rembang meski sudah memakai masker. Tidak sekedar meresahkan, tapi sampah memang sudah menumpuk dan meluber dari tempat pembuangan sampah (TPS) setempat ke jalan pasar.

Dari Kilasnasional.com yang memeriksa langsung di lokasi Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Senin (4/1/2021) pagi. Lokasi TPS berada di sisi kiri sebelah utara Pasar nampak tumpukan sampah masih dibiarkan berceceran dan tidak ada penanganan dari petugas kebersihan pasar setempat.

Seorang pedagang Pasar Pamotan, Atik mengatakan dari dulu sudah menjadi pemandangan rutin bak tradisi di pasar Pamotan dimana sampah terus menumpuk tanpa ada pembersihan dari petugas kebersihan pasar.

“Kali ini penumpukan sampah tanpa ada pembersihan sudah hampir sebulan ini mas,” katanya.

Rasanya agak percuma protes,

“Jika di protes oleh sebagian pedagang pasar mengenai sampah, tidak ada tanggapan atau penindakan dari pihak pengelola pasar,” terangnya.

Jika dibandingkan pasar lainnya di Rembang, lanjut Atik, hanya Pasar Pamotan yang sering terjadi penumpukan sampah seperti ini, pihak pengelola pasar hanya menjawab tumpukan sampah bukan hanya dari limbah pasar, namun ada limbah dari warga sekitar yang di buang ditempat itu, jadinya meluber seperti itu.

Baca Juga   Dua pesawat tujuan Semarang mendarat darurat di Bandara Adi Soemarmo

“Biasanya ada petugas pembersihan sampah, akan tetapi jika sudah banyak seperti ini pihak kebersihan pasar hanya menjawab biarkan saja ini menjadi urusan dinas kebersihan,” tuturnya.

Kepala Pasar Pamotan, Mohammad Baroya saat ditemui awak media menerangkan awal penumpukan sampah tersebut dari kurangnya stok kontainer dilokasi TPS.

“Cuma disediakan dua kontainer sampah, jadi tidak bisa menampung volume sampah setiap harinya. Sampah tersebut tidak hanya berasal dari limbah pasar saja, dari warga dan PKL semua membuang sampah disitu,” bebernya.

“Jika dibandingkan volume penampungan sampah setiap harinya dengan jarak pengambilan sampah dari TPS ke TPA tersebut tidak singkron. Jadi sampah terus menumpuk, karena pengambilan sampah hanya dilakukan tiga kali dalam seminggu saja,” imbuhnya.

Baroya menambahkan pihaknya sudah melakukan konfirmasi ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Rembang terkait penumpukan sampah tersebut.

Baca Juga   Guru Non ASN Berharap Pengakuan Ditingkat Pusat

“Yang terpenting saya sudah menyampaikan, karena jika mendatangan alat berat untuk pembersihan sampah, dananya juga tidak mencukupi mas,” tuturnya.

Sementara itu, Saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon UPT Pengelolaan Sampah Dinas Lingkugan Hidup Kabupaten Rembang, Jatmiko menjelaskan untuk jadwal pengambilan sampah di Pasar Pamotan dilakukan tiga kali dalam seminggu. Setiap harinya volume sampah tidak pasti, harusnya setelah dilakukan pengambilan sampah dari TPS ke TPA dan terjadi penumpukan sampah kembali, pihak pengelola Pasar segera konfirmasi kembali ke pihak DLH, untuk melakukan pengambilan sampah diluar jadwal.

“Jadi jika pengelola pasar tidak konfirmasi ke kami, ya kami tidak tahu. Karena tugas DLH hanya melakukan pengangkutan sampah dari TPS ke TPA, bukan melakukan pembersihan sampah di lokasi, itu sudah menjadi tugas kebersihan petugas pasar setempat,” pungkasnya. (*/ap)

Artikel ini dari Kilasnasional.com yang diubah seperlunya

Tinggalkan Balasan